Natal: Allah di Dalam Sejarah (Lukas 1:51-53)
Pdt. Farlen Tatukude - 26 Desember 2025, 07:25
Di dalam pujian Maria, ia berkata bahwa Tuhan yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar (Lukas 1:49). Apa saja perbuatan-perbuatan besar tersebut? Tentu, salah satunya adalah Maria dipakai menjadi alat di tangan Tuhan untuk melahirkan Sang Raja yang kekal itu dalam rupa bayi. Akan tetapi, perbuatan besar dari Yang Mahakuasa tidak hanya berhenti kepada Maria secara pribadi, namun juga meluas kepada sejarah dunia. Di dalam ayat 51-53, kita melihat bagaimana Maria menggambarkan hadirnya Kerajaan Allah yang penuh dengan kebenaran dan keadilan di tengah dunia yang sudah kacau dan gelap. Maria melihat bahwa kelahiran Sang Raja keturunan Daud ini adalah awal dari perubahan tatanan sejarah dunia yang sudah dikuasai oleh dosa. Natal adalah down-payment (pembayaran di muka) dari berdirinya langit dan bumi yang baru.
Maria mengatakan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa itu akan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Siapakah orang-orang yang congkak ini? Mereka adalah orang-orang yang merasa tidak membutuhkan Tuhan, bahkan ingin melawan Tuhan. Mereka ingin menjadi Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, kecuali diri mereka sendiri. Nama mereka adalah yang paling utama, bukan kemuliaan Tuhan. Hal ini pernah terjadi di dalam kisah Babel, di mana orang-orang saat itu berkumpul untuk membangun kota dan menara, karena mereka ingin mencari nama. Akhirnya, Tuhan menyerakkan dan mencerai-beraikan mereka.
Tuhan Yang Mahakuasa tidak membangun KerajaanNya melalui orang-orang yang congkak hatinya, melainkan melalui orang-orang yang hancur hatinya. Jiwa yang hancur dan hati yang remuk tidak akan pernah dipandang hina oleh Tuhan (Mazmur 51:17). Yang congkak tidak mendapatkan bagian di dalam Kerajaan Allah, makanya mereka diserakkan. Sebab, Kerajaan Allah diberikan bagi mereka yang hancur hatinya. Bagaimanakah dengan hati saudara?
Kemudian, Maria juga mengatakan bahwa Tuhan akan menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya. Mengapa demikian? Bukan karena Yang Mahakuasa iri kepada manusia yang bertakhta, karena tidak mungkin Dia iri, sebab segala sesuatu adalah milikNya. Namun, Ia murka terhadap orang yang berkuasa, tapi tidak memakai kuasanya untuk menghadirkan kebenaran dan keadilan, melainkan mendatangkan penindasan. Kerajaan Allah adalah tentang belas kasih, kebenaran dan keadilan. Para pemimpin yang bertangan besi itu sudah pernah diturunkan oleh Tuhan di dalam sejarah. Mesir, Babel, Persia, Romawi, dll bergantian diturunkan oleh Yang Mahakuasa. Sebab, sejarah bukan di tangan orang berkuasa, tapi di tangan Yang Mahakuasa. Dia akan menaikkan orang-orang yang rendah, yaitu mereka yang memiliki hati yang takut akan Tuhan, murah hati dan haus akan kebenaran dan keadilan.
