Natal: Allah di Dalam Sejarah (Lukas 1:51-53)
Pdt. Farlen Tatukude - 26 Desember 2025, 07:25
Terakhir, Maria mengatakan dalam pujiannya bahwa Tuhan Yang Mahakuasa akan melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, sedangkan orang yang kaya akan pergi dengan tangan hampa. Bukan karena Dia tidak ingin manusia mendapatkan kekayaan, justru sebaliknya, Yang Mahakuasa mau melimpahkan kekayaan kepada sebagian orang dengan tujuan mereka menjadi berkat bagi orang lain. Abraham diberkati dengan sangat limpah, tapi untuk menjadi saluran berkat bagi banyak bangsa. Maka, jika kita sudah diberikan berkat, namun kita gagal untuk menjadi saluran berkat, karena kerakusan untuk menimbun kekayaan bagi diri sendiri dan tidak mempedulikan orang yang membutuhkan, Yang Mahakuasa akan mengambilnya dan melimpahkannya kepada orang yang lapar. Kekayaan Mesir pernah diambil oleh Tuhan Allah untuk dibagikan kepada Israel, sebab mereka selama 400 tahun memiskinkan Israel di dalam perbudakan. Sejarah bukan di tangan orang kaya, juga bukan di tangan kaum miskin, seperti kata Karl Marx, tapi di tangan yang Tuhan Yang Mahakuasa.
Natal bukan hanya sukacita pribadi, tapi adalah sukacita bagi seluruh dunia, karena Tuhan Yang Mahakuasa bukan hanya berintervensi di dalam hidup umatNya pribadi lepas pribadi, namun juga berintervensi di dalam jalannya sejarah dunia, karena ini adalah Dunia Bapa. Kelahiran Sang Raja keturunan Daud 2000 tahun yang lalu adalah kelahiran yang menjadi down-payment (pembayaran di muka) dari hadirnya Kerajaan Allah yang berisikan kebenaran dan keadilan. Oleh sebab itu, Yesus pernah berkata: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat (tiba).” KerajaanNya itu akan terus datang sampai benar-benar lengkap dan sempurna dalam bentuk langit dan bumi yang baru.
Saat ini, kita masih lebih banyak melihat ketidakadilan dan ketidakbenaran, penindasan dan kesemena-menaan. Hukum dipermainkan demi kepentingan pribadi atau sectoral, kekayaan bukan untuk dinikmati kebanyakan orang, tapi oleh segelintir orang, hak asasi diabaikan demi melanggengkan pihak yang berkuasa. Atas nama kemajuan budaya, moralitas diinjak-injak, dan atas nama hak asasi manusia, hukum-hukum Allah dibuang. Kebenaran ditutupi dengan kebohongan sejarah, kehidupan rakyat dikorbankan demi kerakusan ekonomi. Dan, masih banyak lagi kesuraman serta kegelapan yang kita lihat. Namun, iman adalah bukti dari apa yang kita tidak lihat. Maka, mari kita beriman bahwa Tuhan Yang Mahakuasa pernah berintervensi di dalam sejarah, oleh karena itu, kita percaya Dia akan melakukannya lagi dan lagi, sampai akhirnya langit dan bumi yang baru hadir bersamaan dengan kedatangan kali kedua dari Sang Raja semesta alam, yaitu Tuhan kita Yesus Kristus.
Kita belum melihat langit dan bumi yang baru itu, tapi kita beriman bahwa Kristus akan mewujudkannya, sebab Dia adalah Raja atas sorga dan bumi dan kerajaanNya adalah kerajaan belas kasih, kebenaran dan keadilan. Dia yang pernah lahir menjadi bayi, sekarang sudah memerintah dari sorga dan RohNya yang Kudus terus bekerja di dalam dunia menghadirkan terang di tengah kegelapan dan kesucian di tengah keberdosaan. Tuhan memberkati.
