Natal: Sukacita bagi seluruh bangsa (Lukas 2:10-11)
Pdt. Farlen Tatukude - 24 Desember 2025, 08:06
Bagaimana kita memaknai sukacita? Pada umumnya, orang akan berpikir bahwa ketika mereka mendapatkan kesuksesan, seperti berhasil dalam pekerjaan, studi, maka itulah sukacita bagi mereka. Sebagian berpikir, jika kerinduan mereka yang terdalam tercapai, misalkan berlibur ke destinasi yang paling diidam-idamkan tergenapi, maka itulah sukacita. Contoh-contoh ini adalah sukacita yang berdasarkan keadaan. Namun, bagaimana jadinya jika keadaan berbalik arah. Bagaimana jika bencana tiba, musibah silih berganti, orang yang dikasihi meninggalkan kita, kegagalan tiba dalam hidup, dukacita mengelilingi kita? Apakah kita masih bisa bersukacita? Kekristenan justru menjanjikan sukacita di tengah dukacita. Oleh karena itu, Paulus mengatakan: bersukacitalah senantiasa (Filipi 4:4).
Bagaimana bisa muncul sukacita di tengah dukacita? Sukacita umat Tuhan adalah sukacita bukan berdasarkan keadaan, tapi berdasarkan pengenalan akan Tuhan dan karyaNya. Natal adalah kisah di mana seseorang bisa memiliki begitu banyak alasan untuk berdukacita, bahkan bisa menjadi stress, namun justru, dia bisa bersukacita. Itu adalah kisah Maria. Natal adalah ajakan untuk kita bersukacita di tengah berbagai dukacita yang kita alami.
Ajakan tersebut terkandung di dalam syair pujian Maria (Lukas 1:46-55). Suatu syair yang kemudian digubah menjadi lagu yang sangat indah oleh Johann Sebastian Bach dengan judul Magnificat pada tahun 1723 (hampir 2 milenium sesudah Yesus lahir). Di dalam syair tersebut, Maria dengan lantang dan lapang hatinya memuliakan Tuhan, bukan karena dia bebas dari kesulitan, namun justru, ketika dia tahu bahwa dia akan masuk ke dalam kesulitan dan kekacauan yang lebih besar dari sebelumnya.
Dengan karunia yang Tuhan berikan untuk menjadi ibu bagi Sang Anak Allah yang Mahatinggi, Maria harus rela untuk melalui berbagai kesulitan. Dia harus rela mendapatkan cemooh dari masyarakat, karena dia sudah hamil sebelum menikah. Jawaban yang mengatakan bahwa itu datang dari Roh Kudus akan sangat sulit dipercaya orang, karena hal itu belum pernah terjadi di dalam sejarah umat Allah. Maria harus rela digosipkan oleh orang bahwa dia mungkin memiliki hubungan di luar nikah. Maria hampir saja diceraikan oleh Yusuf, jika bukan karena intervensi dari malaikat. Bukankah semua hal ini cukup untuk menghalangi Maria bersukacita?
