Natal: Sukacita bagi seluruh bangsa (Lukas 2:10-11)
Pdt. Farlen Tatukude - 24 Desember 2025, 08:06
Namun, tidak demikian dengan Maria, dia justru berkata: “jiwaku memuliakan Tuhan, hatiku bergembira, karena Allah Juruselamatku” (Lukas 1:46-47). Mengapa Maria bisa bersukacita di tengah kesulitan dan kekacauan yang dia akan alami? Sebab, Maria berkata: “Yang Mahakuasa melakukan perbuatan besar kepadaku” (Lukas 1:49). Perbuatan besar apakah yang dilakukan oleh Tuhan? Dia memperhatikan kerendahan hambaNya. Dia bertindak menyelamatkan umatNya.
Ketika Alkitab berbicara tentang “kerendahan”, itu merujuk kepada keadaan sengsara akibat dosa. Tuhan pernah memperhatikan kesengsaraan bangsa Israel ketika mereka hidup dalam keberdosaan di Mesir. Dan, sekarang, Maria juga menyatakan bahwa Tuhan memperhatikan kesengsaraan dia. Kesengsaraan yang paling berat bagi manusia bukanlah sengsara karena keadaan social (mis: mendapatkan ketidakadilan), namun karena keadaan berdosa (mendapatkan murka Allah). Inilah sengsara yang akan membawa kepada kematian kekal.
Dengan kelahiran Sang Anak Allah yang Mahatinggi, maka Maria menyadari bahwa Tuhan akan menyelamatkan umatNya dari sengsara dosa. Inilah Injil, kabar baik yang isinya adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaNya dari murka Allah. Bagi yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka dia akan selamat dari hukuman kekal, sengsara yang paling berat itu. Bukankah ini seharusnya memberikan kepada kita sukacita yang paling besar? Makin besar bahaya yang kita lolos, makin besar pula sukacitanya. Natal adalah berita sukacita terbesar, karena manusia dapat lepas dari sengsara terbesar, yaitu murka Allah, akibat dari dosanya sendiri. Inilah Injil, kabar baik.
Injil inilah alasan mengapa Maria bersukacita di tengah kekacauan yang hidup dia akan alami. Inilah juga alasan mengapa Paulus bisa bersukacita meskipun dia ada di penjara Filipi. Inilah juga alasan para jemaat Petrus dapat bersukacita, karena mereka sudah mencapai tujuan iman, yaitu keselamatan jiwa (1 Pet. 1:8-9). Inilah alasan umat Tuhan di sepanjang sejarah bersukacita, meskipun mereka mengalami penganiayaan. Bagaimanakah dengan saudara? Apakah sukacitamu?
Mari jangan bersandar pada sukacita yang muncul dari keadaan yang baik, tapi mari bersukacitalah di tengah-tengah keadaan yang sulit sekalipun. Hidup begitu penuh dengan kesesakan, kegelapan dan kesuraman yang mengimpit. Di tengah keadaan seperti itu, apakah pilihan hidupmu? Apakah saudara akan membiarkan dirimu tenggelam dalam dukacita? Ataukah, saudara akan membohongi diri dengan mengatakan keadaan akan baik-baik saja? Alkitab menolak kedua pilihan tersebut, karena di dalam Alkitab ada suatu alternatif lain, yaitu ajakan untuk tetap bersukacita di tengah dukacita. Sebab, Sang Anak Allah memperhatikan kerendahan kita, dan Dia ingin melepaskan kita dari sengsara terbesar manusia. Maka, maukah engkau percaya kepada kekuatan kuasa Allah yang menyelamatkan? Maukah engkau percaya kepada kabar baik ini? Inilah sumber sukacita terbesar yang melampaui segala dukacita apapun dalam hidup (Filipi 4:7). Tuhan memberkati.
