Kebahagiaan - Sebuah Renungan Imlek
Vik. Farlen Tatukude - 29 Januari 2025, 12:00
Kedua, bagaimana hati kita ini diisi dengan Pribadi Allah? Yesus berkata di dalam Yoh. 17:3 bahwa hidup kekal adalah mengenai mengenal Allah yang sejati dan mengenal Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan mengenal Allah yang sejati. Ingat, seorang pemuda yang kaya itu bertanya tentang hidup kekal dan jawabannya ternyata adalah tentang mengenal Allah melalui mengenal Kristus. Jika kita ingin untuk memaksimalkan kesenangan, maka satu-satunya kesenangan yang kita harus maksimalkan adalah kesenangan dalam mengenal Kristus. Mengenal Kristus akan membawa hati kita dipenuhi dengan kebahagiaan, karena memang hati kita dibuat untuk diisi oleh Allah. Blaise Pascal, seorang teolog dan ilmuwan, pernah mengatakan bahwa di dalam hati setiap manusia terdapat suatu lobang yang berbentuk Allah (God-shaped hole). Maka, lobang ini tidak bisa diisi dengan hal lainnya, kecuali Allah.
Pertanyaannya adalah bagaimana Allah mengisi hati kita? Kita harus merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, kata pemazmur (Maz. 1). Hati dan pikiran kita harus senantiasa diisi dengan Firman Allah. Inilah hidup orang Kristen, yaitu terus diisi dengan pengenalan akan Allah yang tidak akan habis-habisnya, karena Dia adalah Allah yang ajaib. Mari kita mengenal akan kasih Allah, akan keadilanNya, akan pengorbananNya, akan kuasa FirmanNya (yang sanggup mengubah dan menghidupkan orang mati), akan janji-janjiNya (yang sudah dimulai sejak dari Adam sampai akhir zaman) dan perintah-perintahNya kepada kita umatNya yang sudah Ia tebus. Inilah hidup yang paling berbahagia. Daud di dalam perenungannya mengatakan bahwa orang yang paling berbahagia adalah mereka yang dosanya diampuni, pelanggarannya tidak diperhitungkan dan kesalahannya ditutupi (Maz. 32). Apakah Daud tidak memiliki segala kesenangan? Terlalu banyak. Dia memiliki kuasa ekonomi, militer, politik, dll. Tapi, semua hal itu bukan kebahagiaan baginya, selain mengenal pengampunan dan penerimaan dari Allah terhadap dia orang yang berdosa, seperti saudara dan saya.
Di dalam Maz. 1 dikatakan bahwa ada dua macam orang. Yang pertama seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, dan yang kedua seperti sekam yang ditiup angin. Kita bisa membayangkan metafora pohon tersebut. Pasti itu adalah pohon yang kuat meskipun diterpa angin yang kencang (seperti pohon di tepi pantai). Lalu, itu adalah tipe pohon yang pasti menghasilkan buah karena keberadaanya yang dekat dengan air. Ini jelas berbeda dengan orang yang seperti sekam, yang mana hidupnya begitu tidak berbobot, sangat gampang ditiup angin dan akhirnya, tidak berguna. Mengapa bisa ada orang yang hidupnya seperti pohon? Karena dia mengenal Allah, mengenal karakterNya, mengenal karya-karyaNya melalui merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, seperti yang dikatakan di atas. Sedangkan, yang seperti sekam, karena orang tersebut hidup dalam kumpulan orang berdosa. Manakah yang berbahagia? Jadilah seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, dan jangan seperti sekam!
Terakhir, orang yang mengenal Allah bukan menghindar dari derita (seperti pendekatan kedua yang dijelaskan di atas), dan tentu saja juga bukan mencari derita (karena dalam Doa Bapa Kami dikatakan: jangan membawa kami ke dalam pencobaan), namun dia dapat menghadapi dan menanggung derita dengan kekuatan dari Allah. Paulus mengatakan di dalam Filipi 4:12-13 bahwa dia tahu apa artinya hidup dalam kelimpahan, tapi dia juga tahu apa itu kekurangan. Namun, dalam kesemuanya itu, dia dapat menanggungnya di dalam Kristus yang memberikan kekuatan kepadanya. Derita tidak menghalangi kita untuk berbahagia, bahkan derita dapat dipakai oleh Tuhan untuk menjadi jalan kita berbahagia, karena melalui segala derita tersebut, kita melihat bagaimana Tuhan sementara merenda hidup kita (lihat kisah hidup Yusuf). Bukankah ketika Yusuf mengatakan: manusia mereka-rekakan yang jahat, namun Allah menjadikannya baik – itu adalah perkataan yang muncul dari hati yang berbahagia? Kiranya hidup kita boleh menikmati kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah melalui cara yang juga ditetapkan oleh Allah sendiri, karena kita ini buatan Allah diciptakan untuk menikmati bahagia di dalam Dia! (FIT)
Tuhan memberkati
