Kebahagiaan - Sebuah Renungan Imlek
Vik. Farlen Tatukude - 29 Januari 2025, 12:00
Secara umum kita dapat menjumpai dua macam pendekatan untuk mencapai kebahagiaan. Pertama, orang ingin untuk memaksimalkan kesenangan. Hal ini dapat dicapai entah melalui uang, popularitas, kenikmatan, kekuasaan, jabatan, dll. Para artis menjadi contoh dari orang-orang yang ingin memaksimalkan kesenangan. Kita bisa mengatakan bahwa para artis sudah hampir memiliki segala kesenangan yang diinginkan oleh banyak orang. Namun, ternyata cukup banyak juga artis yang melakukan bunuh diri. Lihat saja yang terjadi dengan cukup banyak berita tentang bunuh diri dari artis Korea [1]. Ada apa? Ada sesuatu yang mereka rasa kehilangan, sehingga mereka tidak bisa bahagia sepenuhnya, meskipun kesenangannya sudah maksimal.
Alkitab juga memberikan contoh tentang seseorang yang sudah bisa dikatakan memiliki segalanya dalam hal kesenangan, yaitu seorang pemuda yang kaya (Luk. 18). Dia adalah seorang yang kaya, masih muda, banyak pengikut, bermoral dan tentu memiliki juga intelek yang tinggi. Tapi, suatu pertanyaan diberikan olehnya kepada Yesus: guru yang baik, apa yang harus aku lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal? Jelas terlihat, orang muda ini juga masih merasa ada sesuatu yang dia belum miliki, sesuatu yang bisa memberikan kebahagiaan kepadanya.
Jadi, cara yang pertama untuk mendapat kebahagiaan, yaitu dengan memaksimalkan kesenangan, ternyata belum berhasil. Cara yang kedua adalah mencapai kebahagiaan melalui menghindari derita. Tujuannya bukan untuk memaksimalkan kesenangan, tapi cukup untuk menghapus derita saja. Dengan demikian, kesenangan yang dicapai hanyalah minimal. Orang-orang seperti ini biasanya akan merasa cukup dengan hidup sederhana, berdisiplin terhadap diet, memilih untuk mengeluarkan biaya hanya untuk kebutuhan yang minimal, bahkan tidak akan terlalu ambisius mencapai hal yang besar.
Orang-orang seperti ini memilih untuk mengadopsi prinsip: low-gain, low-risk, sedangkan untuk pendekatan yang sebelumnya adalah high-gain, high-risk. Mereka yang memilih hidup sederhana, tidak ingin terlalu banyak terjadi gejolak dalam hidup mereka. Kestabilan dan ketenteraman adalah tujuan utama mereka. Ini tentu berbeda terbalik dengan mereka yang berusaha untuk memaksimalkan kesenangan. Namun demikian, hidup yang menghindari derita ini tetap saja tidak menjanjikan bahagia yang penuh dan menetap bagi para pengikutnya. Mereka tetap akan merasa kehilangan ketika hal-hal yang mereka pegang selama ini berubah, misalkan: kehilangan anggota keluarga yang mereka dekat.
Maka, pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana manusia menemukan kebahagiaan yang menetap? Dunia dengan alternatif yang diberikannya ternyata masih menemui kegagalan. Oleh sebab itu, kita perlu melihat apa yang Alkitab katakan tentang kebahagiaan. Alkitab bukan hanya benar secara fakta, tapi juga benar di dalam menunjukkan problem mendasar hidup manusia dan apa solusinya.
Kita harus mulai terlebih dahulu dengan menjawab siapakah manusia. Manusia yang membutuhkan kebahagiaan, maka mengetahui natur hati manusia adalah suatu keniscayaan. Siapakah manusia? Di dalam Kitab Pengkhotbah 3:11 dikatakan bahwa hati manusia diberikan kekekalan oleh Tuhan. Seperti jika kita menyewa sebuah mobil rental, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu jenis bahan bakar mobil tersebut. Andaikata bahan bakarnya adalah bensin, maka tidak bisa diisi dengan solar. Begitu juga sebaliknya. Demikianlah hati manusia. Jika hati kita diberi kekekalan, maka hati ini hanya bisa diisi dengan sesuatu yang kekal, sehingga kita bisa menemukan kebahagiaan.
Yang kekal harus diisi dengan Sang Kekal juga. Maka, hati manusia hanya bisa cocok dengan Allah yang kekal itu. Hanya jika Allah mengisi hati kita, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Selama manusia berusaha untuk mengisinya dengan hal-hal lain (materi) atau pribadi selain Allah, maka ini akan merusak hidup manusia. Seperti mobil yang harusnya diisi oleh bensin, tapi dipaksa untuk diisi dengan solar, maka mobil tersebut juga akan rusak dan tidak berfungsi.
[1] https://www.financialexpress.com/world-news/the-unseen-toll-of-fame-k-pops-suicide-crisis/3678361/
