Logo

Artikel

Ironi di Dalam Kisah Salib

Pdt. Farlen Tatukude - 19 April 2025, 06:27

Ironi

5.    Rakyat mengatakan kepada Pilatus bahwa darah Yesus menjadi tanggungan bagi mereka, bahkan anak-anak mereka. Seolah-olah mereka sudah melakukan yang benar dengan membunuh Yesus. Tapi, sebenarnya, justru Yesus-lah yang sementara menanggung keberdosaan mereka (dan kita) lewat kematianNya, supaya mereka (dan kita) tidak binasa. 

6.    Yesus dihujat di atas kayu salib: "jangankan merobohkan Bait Suci dan membangunnya dalam tiga hari, menyelamatkan dirinya saja dari atas kayu salib, dia tidak bisa melakukannya." Namun ternyata, lewat kematianNya, Yesus memang merobohkan esensi Bait Suci, karena bukan lagi Bait Suci yang menjadi mediator antara Allah dan manusia, sorga dan bumi, melainkan diriNya sendiri yang mendamaikan Allah dan manusia. Bahkan, tabir bait suci terbelah menjadi dua, ketika Yesus di atas salib, sehingga artinya akses ke ruang mahakudus (kepada Bapa) menjadi terbuka melalui Yesus.

7.    Yesus juga dihina di atas kayu salib: “Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya.” Justru, Dia memang adalah Raja di atas salib, bukan di atas takhta dunia, bukan dengan mahkota berlian, tapi dengan mahkota duri, bukan dengan jubah kemilau, tapi dengan telanjang. Mengapa? Karena Dia adalah Raja yang melayani umatNya, karena kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri. 

8.    Di atas salib yang hina, penuh kelemahan dan kebodohan, orang banyak menghina dan mengolok-olok Yesus, tapi seorang kepala pasukan justru mengatakan kalimat yang mengagetkan dan benar: “sungguh orang ini adalah Anak Allah.” 

9.    Di atas salib, Yesus ditinggalkan oleh Sang Bapa, sehingga Ia berteriak: “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dia rela melalui momen ini (momen neraka) supaya umatNya tidak lagi akan ditinggalkan oleh Bapa selama-lamanya (hidup kekal). 

10.    Sang Allah Anak yang kekal, yang tidak bisa mati, yang adalah pemilik (penghulu) hidup, justru merelakan diriNya untuk mati bagi dosa-dosa kita. Dan, Ia bangkit sebab Ia memang adalah Allah yang kekal, yang menelan maut.

Soli Deo Gloria.

Mungkin Anda juga tertarik

Relasiku dengan Tuhan sudah cukup! Aku tidak perlu relasi dengan orang lain. Benarkah pandangan demikian?

Apakah kalian pernah ikut pelayanan jadi usher KU atau remaja? Kenapa sih kalian ingin ikut pelayanan? Apa karena dorongan orang tua dan ikut teman?