Logo

Artikel

Cinta Akan RumahMu #2

Vik. Farlen Tatukude - 02 Februari 2025, 19:02

Cinta Akan RumahMu #2

Yang pertama di dalam inkarnasiNya, dikatakan bahwa seorang anak telah lahir untuk kita dan seorang putra telah diberikan untuk kita, dan alasan dari semua ini adalah the zeal of the Lord (Yes. 9:6). Jadi, ternyata bukan hanya umat Tuhan yang dituntut untuk memiliki zeal, namun Allah sendiri juga sudah menunjukkan bagaimana Ia begitu bergairah dan berhasrat (zealous) bagi kerajaan Allah, dan salah satunya terwujud melalui inkarnasiNya. 

Kemudian, ketika Yesus hidup di dalam dunia, Ia juga rela menerima segala kebencian, permusuhan dan bahkan sampai dibunuh di atas kayu salib, karena Ia begitu berapi-api (zealous) dalam menyatakan kebenaran Allah dan mempertahankan kemuliaan Allah. Karena cintaNya, Ia rela menghanguskan diriNya demi supaya kita yang berdosa mendapatkan penebusan dan pengampunan dosa. Pada akhirnya, hidup Yesus menjadi seperti persembahan korban yang menghasilkan bau harum bagi Bapa (an aroma pleasing for the Lord), suatu makanan yang matang – bukan yang mentah – yang disajikan bagi Allah Bapa, di mana seluruh afeksi Kristus (cintaNya, belas kasihNya, keadilanNya, kemarahanNya, dukacitaNya) dimasak dengan sempurna oleh Api Roh Suci yang berasal dari Roh Kudus yang membara di dalam hati Yesus. Suatu persembahan yang diterima dan dinikmati oleh Allah Bapa, sehingga kita yang berdosa boleh diterima, diampuni dan dibenarkan. 

Maka, jika Kristus sudah begitu zealous dalam hidupNya bagi keselamatan kita dan kemuliaan Bapa, jangan sampai hidup kita yang harusnya menjadi seperti Yesus, malah berkontradiksi, berbanding terbalik, dan menjadi suam-suam kuku dibandingkan dengan panasnya kasih Kristus bagi kita! Jika hal itu terjadi, betapa kita menganggap sepi anugrah Tuhan. Tetapi, bukankah seharusnya kita tidak rela hal yang berkontradiksi itu terjadi? 

Oleh sebab itu, marilah kita belajar untuk menghanguskan diri kita bagi Kristus dengan cara mencintai rumah Allah, mencintai jiwa-jiwa yang terhilang, mencintai kemuliaan Allah dan mencintai KerajaanNya. Marilah kita dengan bergairah dan setia mengerjakan apa yang menjadi panggilan Tuhan dalam hidup kita. Marilah kita menjadi bau harum bagi Allah Tritunggal, sehingga Ia dapat menikmati hidup kita yang sudah ditebus oleh Kristus. Dan, marilah jangan sia-siakan hidup yang baru yang Kristus sudah anugrah bagi kita melalui penebusanNya!

Tetapi satu hal lagi yang perlu diingat, yang terbakar dan yang hangus tidak akan binasa, melainkan akan dibangkitkan dan menjadi utuh kembali. Inilah yang terjadi dengan Kristus, bukan? Dia menghanguskan diriNya dengan mati di kayu salib bagi kita, dan di hari yang ketiga, Ia bangkit. Justru harus mati, baru bisa bangkit. Seperti kata Paulus, yaitu ketika ia menjadi serupa dengan Kristus dalam kematianNya, ia akhirnya akan beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Fil. 3:10-11). Menjadi terbakar dan menjadi hangus bukan akhir dari cerita hidup orang percaya, tapi justru itu adalah jalan masuk kepada cerita yang lebih agung lagi, yaitu cerita kebangkitan. Dari menjadi korban (offering) berubah menjadi ahli waris (heirs) dari Kerajaan Allah bersama dengan Kristus, Sang Anak Allah yang sejati, jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, sehingga nanti akan dipermuliakan bersama-sama dengan Dia (Rom. 8:17). 

Kiranya Tuhan mempercayakan kepada kita lebih banyak lagi pekerjaan Tuhan, sehingga kita rela menghanguskan diri kita bagiNya, dan akhirnya melihat kuasa kebangkitan (FIT).

Mungkin Anda juga tertarik

Kedatangan Kristus membawa kehangatan kepada manusia di bumi, yaitu kehangatan kasih Allah. Bagaimana kasih ini dinyatakan? Maukah kita menerima kehangatan kasih Allah?

Waktu kita memang terbatas. Jika tahun baru kita pahami sebagai beban untuk melunasi semua tuntutan hidup, hasilnya hanyalah kelelahan dan kemarahan.