Logo

Artikel

Cinta Akan RumahMu #2

Vik. Farlen Tatukude - 02 Februari 2025, 19:02

Cinta Akan RumahMu #2

Setelah kita melakukan refleksi kepada diri kita dan kita menemukan bahwa kita kekurangan godly zeal, maka pertanyaannya adalah dari mana saya bisa mendapatkan api suci itu? Tentu saja, api tersebut bukan dari dalam diri kita, tapi dari luar diri kita, dan itu adalah api dari Roh Kudus. 

Maka, hal yang paling pertama kita harus lakukan untuk mendapatkan godly zeal itu adalah kita harus berdoa. Seringkali kita meminta kepada Tuhan hal yang tidak jelas, yang tidak Tuhan suruh dan tidak Tuhan janjikan. Padahal, di dalam Injil Lukas, Yesus sendiri mengatakan bahwa Bapa akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya (Luk. 11:13). Hal ini berkaitan dengan penyertaan Roh Kudus yang membawa godly zeal. Itu adalah pemberian terbaik dari Allah bagi anak-anakNya. Barangsiapa yang meminta kepada Bapa, maka pasti Api Roh Suci itu akan terus menyala di dalam hatinya, karena ini adalah janji Tuhan. 

Tapi, supaya api ini terus menyala, kita juga membutuhkan bahan bakar. Dan, apakah bahan bakar yang dimaksud itu? Firman Allah. Pembacaan Firman, perenungan Firman, khotbah mimbar, pendalaman Alkitab, semua ini adalah bahan bakar yang akan terus memperbesar godly zeal itu. Seperti, api unggun, ketika apinya mulai mengecil, maka akan disiram bahan bakar supaya bisa menyala lebih besar lagi. Maka, demikianlah juga dengan Api Roh Suci.

Dan, terakhir, yang kita harus lakukan adalah sebagai orang-orang yang sudah diberikan Api Roh Suci adalah kita harus bersatu. Tanpa persatuan, maka api di dalam masing-masing hati kita akan cepat padam. Bara api yang terpisah-pisah akan sulit untuk terus berkobar sendiri, sehingga makin lama akan padam. Demikian juga dalam hal rohani, masing-masing kita yang memiliki bara api harus bersatu bersama, sehingga bisa menghasilkan kobaran api yang besar. Maka dari itu, Alkitab mengatakan agar jangan kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (Ibr. 10:25). Bahkan, Paulus juga berkata bahwa api dari suatu kelompok umat Tuhan dapat menjadi perangsang (provoking – NIV) bagi kelompok yang lain (2 Kor. 9:2). Sebagaimana suatu kobaran api, ketika menyambar suatu barang, maka barang itu akan ikut menyala juga, demikianlah Paulus menyadari bahwa godly zeal dari satu kelompok umat Tuhan dapat memprovokasi umat Tuhan yang lain sehingga mereka pun penuh gairah bagi pekerjaan Tuhan. Jika dunia saling memprovokasi dengan ujaran kebencian, penghinaan, dan kebohongan; umat Tuhan seharusnya saling memprovokasi dengan godly zeal untuk kerajaan Allah. 

Terakhir, implikasi dari hidup yang dipenuhi dengan godly zeal adalah diri harus siap dihanguskan, seperti perkataan murid-murid Yesus tentang Dia: “cinta akan rumahMu menghanguskan aku.” Pertanyaan yang muncul adalah apakah memang cinta kepada Tuhan harus sampai menghanguskan hidup diri? Dalam dunia kapitalis yang rakus, orang biasanya hidup untuk menghabiskan dan menghanguskan hidup orang lain demi kepentingan dirinya. Ini adalah prinsip survival of the fittest, yaitu siapa yang kuat dia yang bertahan. Ini adalah prinsip yang salah. 

Yesus justru juga mengajar hal yang terbalik, yaitu menghanguskan diri sendiri karena cinta kepada Tuhan dan orang lain. Bukan mempertahankan diri, melainkan justru mengorbankan diri. Itu berarti dapat disimpulkan bahwa yang namanya cinta akan selalu menghanguskan hidup, entah itu cinta kepada diri, orang lain atau Tuhan. Seperti api yang sifat utamanya pasti membakar, maka tidak ada cinta yang sampai tidak membakar. Hanya pertanyaannya adalah membakar diri sendiri atau membakar orang lain? 

Yesus mengajarkan untuk membakar diri sendiri bagi Tuhan dan orang lain. Berarti kita dipanggil untuk menjadi korban (offering), bukan victim. Yang pertama (offering) itu berarti merupakan suatu tindakan aktif, suatu kerelaan dan sesuatu yang dilakukan demi cinta. Tetapi, yang kedua (victim) adalah suatu hal yang pasif, dipaksa dan seringkali karena kebencian orang lain, bukan karena cinta. Hal ini sudah dilakukan oleh Yesus, di mana Dia bukan menjadi victim, meskipun Ia diperlakukan demikian di hadapan manusia, melainkan Ia sebenarnya menjadi the active offering yang dipersembahkan bagi Allah, seperti kata Yesus sendiri: “Tidak ada seorang pun mengambilNya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri (Yoh. 10:18).” Hidup kita bisa dijadikan victim oleh dunia yang berdosa, tapi mari kita mengambil tekad seperti Yesus untuk memberikan hidup kita sebagai offering di hadapan Allah, karena kita ingin taat dalam melakukan kehendakNya. 

Jadi, Yesus bukan hanya mengajar, Dia juga memberikan contoh yang dapat kita ikuti tentang bagaimana Ia menghabiskan diriNya menjadi persembahan yang harum di hadapan Bapa. Hal ini, kita  bisa melihatnya dengan lebih terperinci di dalam setiap tahap hidup Yesus. 

Mungkin Anda juga tertarik

Apakah kalian pernah ikut pelayanan jadi usher KU atau remaja? Kenapa sih kalian ingin ikut pelayanan? Apa karena dorongan orang tua dan ikut teman?

Kenapa sih kita perlu persekutuan di gereja? Dengar khotbah di YouTube atau IG aja sudah cukup ga sihh? Apakah harus datang ke persekutuan di gereja?