Cinta Akan RumahMu #1
Vik. Farlen Tatukude - 02 Februari 2025, 18:41
Maka dari itu, seperti apakah bentuk dari godly zeal (api suci) itu? Samuel Ward (1577-1640) mengatakan bahwa zeal itu seperti api yang membuat suatu wajan mendidih. Maka, api suci ini akan memasak seluruh afeksi kita menjadi matang (perhatikan ini bukan sekedar emosi!). Emosi hanya bersifat sementara, muncul di dalam suatu momen tertentu, dan berubah-ubah tergantung situasi. Tapi, afeksi itu adalah sesuatu yang kuat, menetap, dan berkaitan dengan apa yang kita pikirkan, rasakan yang akhirnya mempengaruhi tindakan kita. Seorang ayah bisa tersulut emosinya karena melihat anaknya yang nakal, tapi dia bisa menahan diri sehingga tidak jadi memukul anaknya yang nakal, melainkan menasihati dan mengajarkan kepadanya apa yang benar. Ketika ayah tersebut menjadi marah sebagai respon dari hal yang dia lihat, ini adalah emosi yang sesaat (impulsive), tapi ketika dia bisa memilih untuk menasihati anaknya, ini adalah suatu afeksi dari cintanya terhadap anaknya yang diawali dengan pemikiran bahwa anaknya masih terlalu kecil, belum banyak pengertian, maka ia masih memerlukan nasihat bukan disiplin yang keras. Sekali lagi, kita bisa melihat bahwa afeksi adalah suatu perasaan yang mendalam dari seseorang dan disertai dengan pemikiran rasional.
Oleh sebab itu, godly zeal itu adalah api yang suci yang memasak seluruh afeksi kita, entah itu cinta kasih kita, sukacita kita, pengharapan kita, bahkan juga kemarahan kita, cemburu kita, dukacita kita, menjadi benar-benar matang. Seperti sebuah olahan makanan yang matang adalah makanan yang siap disajikan kepada orang lain, maka hidup dari orang yang memiliki godly zeal adalah hidup yang dapat disajikan bagi orang lain. Dan, seperti makanan yang matang itu mengandung energi, gizi yang menyehatkan, maka demikian juga hidup seseorang yang memiliki godly zeal dapat menguatkan hidup orang lain. Intinya, hidup orang Kristen yang memiliki godly zeal adalah hidup yang dapat dinikmati oleh orang lain, dan yang paling utama oleh Tuhan sendiri.
Yesus pernah berkata kepada jemaat di Laodikia bahwa jika mereka tidak panas atau tidak dingin, Dia akan memuntahkan mereka (Why. 3:16). Hal ini dikarenakan hidup mereka tidak bisa dinikmati oleh Tuhan, karena tidak matang, dengan kata lain masih mentah. Suatu makanan yang mentah, bukankah tidak layak untuk disajikan?
Seringkali hidup kita masih mentah, tidak bisa dinikmati oleh Tuhan dan tidak ada energi yang cukup untuk menjadi berkat bagi orang lain, sebab afeksi kita tidak cukup dipanasi oleh the godly zeal. Dengan kata lain, kita tidak punya godly zeal yang terus menyala, bahkan menyala dengan makin panas. Seringkali, cinta kasih kita bersifat mentah. Kita hanya melakukan suatu pelayanan demi mendapatkan keuntungan atau kesenangan. Atau, mungkin tidak sampai menguntungkan, tapi paling tidak, tidak terlalu merugikan, tidak terlalu menyulitkan, tidak terlalu membuat merepotkan, tidak terlalu mengganggu waktu pribadi (me time). Jika suatu pelayanan sudah menuntut terlalu banyak dari diri kita, maka kita memutuskan untuk mundur.
Seringkali juga sukacita kita juga bersifat mentah. Seperti orang, yang kata Yesus, mendengar firman, menerima dengan sukacita, tapi tidak berakar & hanya tahan sebentar. Ketika datang kesulitan, penindasan, penganiayaan, maka mereka segera meninggalkan iman (Mat. 13:20-21). Bahkan, pengharapan kita juga bersifat mentah, yaitu kita tidak sungguh-sungguh berharap akan adanya kebangunan. Mungkin, kita hanya berharap yang penting suatu pelayanan yang dikerjakan sesuai target saja, semua berjalan baik dan rapi, tapi tidak benar-benar berharap bahwa kebangunan terjadi, yaitu banyak orang sungguh-sungguh menerima Kristus, orang-orang yang hatinya sangat keras, yang pikirannya sangat menghina Tuhan, yang hidupnya sangat rusak, mereka semua bertobat dan tersungkur di bawah kaki Kristus. Kita tidak sungguh-sungguh merindukan banyak orang hidupnya berubah, di mana mereka menyerahkan diri untuk dipakai oleh Tuhan.
Mari kita selidiki hati kita, adakah api yang menyala itu (Godly Zeal) bagi Tuhan dan kemuliaanNya? Ataukah, afeksi kita masih banyak yang mentah sehingga tidak layak untuk disajikan di hadapan Allah dan sesama? Mari kita mohon anugrah Tuhan untuk mengubah mematangkan hidup kita.
