Terang dari Allah
Vik. Farlen Tatukude - 13 Maret 2024, 11:12
Di dalam kebudayaan Timur dekat Kuno, ketika orang-orang masuk ke dalam suatu perjanjian (kovenan), biasanya akan ada korban yang harus dipersembahkan sebagai tanda bahwa jika ada satu pihak yang dalam perjanjian tersebut tidak mentaatinya, maka ia akan dikorbankan seperti binatang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak yang berjanji ingin untuk menghormati perjanjian tersebut karena nyawa mereka menjadi taruhan. Di dalam kegelapan, Abraham menyaksikan Allah (diwakili oleh perapian yang berasap & suluh yang berapi) melewati potongan daging tersebut, yang berarti bahwa Allah berjanji, yaitu jika Dia gagal menggenapi tuntutan kovenan (perjanjian) tersebut, maka Dia rela menjadi seperti potongan daging tersebut. Uniknya, bukan Abraham yang disuruh berjalan. Jadi, ini berarti Tuhan sendiri yang dengan serius berjanji kepada Abraham.
Di dalam Kitab Injil, kita juga melihat Ketika Yesus mati, kegelapan menutupi langit, dan di saat itu, kita melihat korban dari Allah dipersembahkan (AnakNya yang tunggal) untuk menepati janjiNya kepada umatNya. Ini merupakan suatu pengingat bahwa Dia rela turun ke dalam maut untuk memberikan kepada kita hidup yang kekal, Ia rela menjadi terpisah dengan Bapa untuk memberikan kepada kita tanah air sorgawi, dan Ia rela mengalami kegelapan yang dalam untuk membawa kita kepada terang. Pemahaman akan hal ini harusnya memberikan kepada kita ketenangan, karena inilah juga yang menenangkan Abraham di dalam Kej. 15:1 (“Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu, upahmu akan sangat besar”).
Doa
Bapa, ingatkan saya bahwa oleh karena Yesus mengalami kegelapan,
Engkau menunjukkan kepada kami terang;
oleh karena Dia mengalami keterpisahan denganMu,
Engkau berjanji memberikan kami Tanah air Surgawi;
oleh karena Dia mengalami maut, Engkau memberikan kepada kami hidup.
Dan, tolong saya agar tidak menjadi takut,
karena Engkau adalah perisai kami & hadiah kami terindah.
Di dalam nama Yesus, kami berdoa.
Amin.
