Utang, Waktu, dan Amarah: Refleksi Akhir Tahun bersama David Graeber dan Wahyu 12:12
Vik. Doni Harianja - 30 Desember 2025, 18:00
Perspektif Kritis: Melawan Tekanan untuk Selalu Produktif
Pada titik ini, cara umum kita memandang resolusi tahun baru perlu dipertanyakan. Banyak resolusi sebenarnya mirip janji utang yang kita buat diam-diam. Kalimat seperti “tahun depan saya harus mencapai ini dan itu” sering kali menjadi cara kita menghukum diri di masa depan karena kegagalan di masa lalu.
Graeber mengingatkan bahwa dunia modern dipenuhi oleh pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya tidak membawa makna, tetapi hanya menjaga sistem tetap berjalan dan membuat orang terlihat sibuk. Jika kita memasuki tahun baru dengan tekad untuk menjadi “lebih produktif” hanya demi memenuhi tuntutan sosial, kita sedang menyerahkan masa depan kita kepada cara berpikir yang dikuasai ketakutan akan kehabisan waktu.
Iblis digambarkan marah (ingat: dalam ayat 12b terdapat pernyataan “…karena si Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat”) karena ia melihat waktu sebagai garis lurus yang akan segera berakhir di penghakiman. Sebaliknya, iman Kristen mengenal kairos, yaitu waktu Allah yang tidak diukur dari jumlah jam atau hari, tetapi dari makna kehadiran dan relasi. Karena itu, tahun baru bukan soal seberapa banyak hasil yang bisa dipaksa keluar dari diri kita, melainkan tentang keberanian melepaskan beban-beban batin yang menghalangi kita untuk mengasihi sesama, dan terutama dan pertama-tama, mengasihi Allah.
Refleksi: Memasuki Tahun Baru dengan Tangan Kosong
Di ambang tahun baru, kita berdiri di antara dua pilihan, yakni:
- Pilihan pertama adalah cara Iblis melihat waktu: waktu yang singkat dianggap sebagai ancaman, lalu direspons dengan ambisi yang merusak dan kecemasan yang melumpuhkan
- Pilihan kedua adalah cara pandang berdasarkan tahun Yobel memandang waktu, baik dalam pemikiran Graeber maupun dalam kesaksian Alkitab: waktu dilihat sebagai ruang anugerah, tempat utang-utang moral dan sosial dihapuskan.
Tahun baru yang sungguh-sungguh baru hanya mungkin jika kita berani melakukan “penghapusan utang” dalam hidup kita. Artinya, kita berhenti melihat diri kita sebagai orang yang terus berutang pada tuntutan dunia, dan berhenti memperlakukan orang lain seolah mereka selalu berutang atas kesalahan mereka. Jika Iblis marah karena waktunya hampir habis, orang beriman justru dapat hidup dengan tenang, karena dalam kekekalan Allah, waktu tidak pernah benar-benar habis. Ia selalu diperbarui.
Graeber menutup banyak gagasannya dengan ajakan untuk membayangkan ulang hubungan antarmanusia tanpa jerat utang. Secara iman, Wahyu 12:12 mengingatkan bahwa musuh sebenarnya sudah kalah. Kemarahannya adalah tanda keputusasaan. Kita tidak dipanggil untuk ikut tenggelam di dalamnya.
Kesimpulan: Menghancurkan Kalkulator Moral
Memasuki tahun baru, kita diajak untuk mematikan “kalkulator moral” dalam diri kita. Jangan biarkan cara berpikir utang seperti yang dikritik Graeber, atau ketakutan akan waktu yang singkat seperti dalam Wahyu 12:12, menentukan arah hidup kita.
Secara tubuh, waktu kita memang terbatas. Tetapi dalam relasi dan kasih, waktu tidak pernah sempit. Jika tahun baru kita pahami sebagai beban untuk melunasi semua tuntutan hidup, hasilnya hanyalah kelelahan dan kemarahan. Namun, jika tahun baru diterima sebagai kesempatan untuk hidup dalam keyakinan bahwa “utangku sudah lunas di salib,” maka setiap waktu yang tersisa, sedikit atau banyak, bukan ancaman, melainkan anugerah.
Mari menyambut tahun baru bukan seperti orang yang dikejar tenggat dan tagihan, tetapi seperti seseorang yang telah dibebaskan. Tahun baru bukan terutama tentang menjadi “lebih baik” menurut ukuran dunia, melainkan tentang menjadi “lebih bebas” di dalam terang anugerah.
